Panglima Itam Library of NasDem
Rumah pengetahuan politik dan kemanusian bagi seluruh kader NasDem dan juga masyarakat Indonesia pada umumnya.
Panglima Itam
![]()
![]()
"Pendidikan yang utama dan terbaik dimulai dari institusi keluarga."
- Surya Paloh
Effendi Muhammad Risyad adalah nama asli Panglima Itam. Beliau diperkirakan lahir pada 1850-an dari seorang ibu perempuan asal Aceh tepatnya Gigieng dan ayah pedagang (asal Turki). Effendi merupakan gelar kebangsawanan di Turki. Muhammad Risyad dikatakan memiliki satu saudara yang warna kulitnya lebih putih sedangkan dirinya berkulit lebih gelap. Dari sinilah awal mula penyebutan nama Itam, yang berarti hitam—merujuk pada warna kulit Muhammad Risyad. Pendidikan Muhammad Risyad atau Panglima Itam ditempuh di Aceh untuk jenjang Madrasah Ibtidaiyah, Tsnawiyah dan Aliyah. Sedangkan pada jenjang perguruan tinggi dia mendaftar di Al-Jami’atul Baiturrahman untuk mempelajari ilmu kemiliteran, untuk kemudian melanjutkan di sebuah akademi militer di Istanbul. Pemilihan akademi ini atas rekomendasi pamannya dari garis ayah yang berasal dari Izmir, sebuah kota tertua di Turki. Seusai menamatkan akademi, Muhammad Risyad kemudian melanjutkan pendidikan khususnya di Pusat Pelatihan Angkatan Tentara Turki selama satu tahun.
Sekembali dari Turki, Muhammad Risyad melanjutkan usaha kakek dan ayahnya yang sudah mulai tua dan uzur sehingga dia menjadi orang terkaya di Aceh pada zamannya. Usahanya meliputi perdagangan hasil produksi lada, tembakau, kapur barus (tepung dan minyak), minyak asiri, kayu cendana, kayu gaharu, hasil galian tambang dari perkebunan Tgk. Chik Pantee Geulima dan Tgk. Chik Paya Ra’oh serta dari perkebunan milik rakyat yang maha luas. Dari hasil perdagangan ini beliau menjadi orang terkaya di Aceh pada saat itu.
Dengan kekayaan tersebut, Muhammad Risyad bersama Tgk. Chik Pantee Geulima mendirikan Pusat Latihan Militer Aceh yang melatih ribuan mujahiddin untuk melawan pasukan Belanda. Keduanya menyuplai para tentara terlatih tersebut ke berbagai panglima yang sedang berperang gerilya melawan Belanda di berbagai wilayah di Aceh. Sejak saat itu, Muhammad Risyad diberi gelar Panglima dengan nama lengkapnya Panglima Itam.
Network bisnis Panglima Itam mendunia dan menguasai berbagai sumber informasi. Setelah Pusat Latihan Militer Aceh selesai dibangun, dia diangkat sebagai Kepala Pusat Latihan dan sekaligus sebagai Kepala Pusat Intelijen Aceh.
Panglima Itam kemudian mengawini anak keluarga raja di Keumala sebagai istri pertama. Dari keluarga ini lahirlah Nursiah, ibunda Bapak Surya Paloh, satu di antara 14 cucu dari istri pertama. Setelah istri pertamanya wafat, Panglima Itam mengawini anak pamannya yang bertempat tinggal di Bambi—Khadijah, yang memberinya 6 orang anak.
Setelah Pusat Latihan Militernya di Sawang, Pidie Jaya, dibombardir oleh Belanda, beliau memindahkan Pusat Latihan Militer ke Lhoksukon, mengikuti jejak kakek dari garis ibunya yang telah menjadi Raja di Lhok Miduen, dikenal dengan Teuku Raja Ara Bungkok. Pada 23 Desember 2021, Tim Sukma Bangsa menyinggahi lagi lokasi tempat Pusat Pelatihan Militer Aceh pernah berdiri. Di lokasi ini, kami masih menemukan bekas rantai kapalnya, dan beberapa artefak lain dari bangkai kapalnya yang ditenggelamkan oleh Belanda.
Banyak lagi piring, uang logam emas, perak dan tembaga yang ditemukan di lokasi ini sejak 140 tahun yang lalu. Kami masih dapat melihat rantai kapal ketika air laut surut. Pada 1980-an, masih ada bekas benteng yang dijadikan tempat pelatihan terbuat dari batu-batu. Sayangnya pada 23 Disember 2021 yang lalu semua peninggalan itu tidak bersisa sama sekali. Narasumber di lokasi mengatakan bahwa banyak sekali artefak lama yang telah dijual oleh penduduk dan pencari harta karun yang datang dari berbagai daerah di Aceh dan luar Aceh.
Sebuah masjid tua di Lhok Mideun yang dibangun sepenuhnya oleh Panglima Itam dalam Kompleks Pusat Latihan Militer Aceh adalah saksi lain tentang perjuangannya. Ketika Pusat Latihan ini diobrak-abrik atau dibakar, masjid ini tidak dirobohkan oleh Belanda karena trauma dengan pembakaran Masjid Raya Banda Aceh.
Panglima Itam dikabarkan wafat setelah menderita sakit malaria. Ada yang mengatakan bahwa beliau meninggal dunia karena terinfeksi tetanus pada 1926 di pangkuan istri keduanya di Bambi, Pidie, setelah mendampingi Sultan sampai Sultan Aceh terakhir ini yang ditangkap pada 1903 sebagaimana ditulis oleh Dr. Muhammad Adli Abdullah, Lc, M.Hum.
Rumah pengetahuan politik dan kemanusian bagi seluruh kader NasDem dan juga masyarakat Indonesia pada umumnya.